Skip to content

Antri

4 Februari, 2011

Antri memang bisa disebut suatu budaya. Maka bukan suatu hal yang aneh kalau kemudian disebut dengan budaya antri. Atau slogan di tempat-tempat umum yang berbunyi “Budayakan Antri”.

Tapi, seberapa susah sih membudayakan antri?

Saya saja kemarin sempat super sewot cuma gara-gara seorang ibu-ibu salah antri di sebuah swalayan. Dia mengantri dari arah kiri, padahal harusnya dari arah kanan. Saat konsumen didepan saya sudah selesai  membayar belanjaannya, jadilah saya dan ibu-ibu tersebut sama-sama di depan mesin kasir. Melihat ini, sang petugas kasir tentu tahu yang harus didahulukan yang mengantri dari arah yang benar, dan diapun bertanya pada ibu-ibu tersebut, “Ibu antri dari mana?”. Alih-alih menjawab arah seperti “dari kanan” atau “dari kiri”, ibu tersebut menjawab “saya duluan kok mbak!”, dan ditambah dengan mengkonfirmasi ke saya “saya duluan kan mbak?”, dengan pandangan yang mengintimidasi, seolah pertanyaannya retoris.

Dengan tersenyum tak percaya saya menjawab “iya”. Selain terlanjur sebal, saya juga malas debat kusir dengan sang ibu. Akhirnya sang petugas kasir cuma bisa berpesan “Lain kali kalau antri dari sebelah kanan ya bu..” yang dijawab dengan terus mengeluarkan belanjaan dari troley. Duh!

Terlepas dari kesewotan saya, ternyata memang sedikit susah ya, membudayakan antri. Kalau bisa duluan kenapa tidak? Sikut kanan kiri, dorong depan belakang, tak jadi masalah supaya bisa dilayani duluan. Bahwa ternyata yang disikut seorang ibu-ibu yang menggendong anak? Bahwa yang didorong ternyata bapak-bapak tua? Tak masalah, yang penting duluan.

Sebegitu egoisnya ya?

Selama ini cuma ada beberapa tempat dimana orang terbiasa antri dengan teratur, misalnya saja di ruang tunggu dokter, di ajang kontes bakat, dan di tempat pemesanan tiket kereta api. Itu saja karena memang sudah diberi nomor antrian. Jadi bagaimanapun memang tidak bisa seenaknya minta dilayani dulu kalau bukan gilirannya.

Bagaimana dengan saya sendiri?

Saya pernah malu setengah mati, karena ditegur seorang ibu-ibu bule ketika sedang dikejar waktu dan saya nyelonong saja ke depan sebuah konter makanan, agar dilayani lebih dulu. Ibu-ibu itu mencolek bahu saya, dan berkata dengan bahasa Indonesia yang kaku, “Mbak, antri.”, sambil menunjuk tempat dibelakangnya dengan ibu jarinya. Saya langsung tersenyum tak enak dan berkata “oh, iya” dan mengambil tempat dibelakangnya.

Well, serasa dimarahi di rumah sendiri oleh orang asing.

Karena rasa malu yang teramat sangat itulah saya jadi belajar untuk mengendalikan diri dan selalu mengambil tempat untuk antri setiap datang ke suatu tempat umum. Mungkin kata “antri” adalah salah satu kata utama yang dipelajari ibu-ibu bule itu di negara kita.

Yah, hampir semua orang tahu, antri sudah menjadi budaya di negara-negara maju. Negara-negara yang warganya sering kita cap sebagai orang-orang yang sangat individualistis. Tak punya tenggang rasa seperti bangsa kita. Tapi ternyata untuk urusan antri, saya bisa jauh lebih egois dibanding mereka. Dengan alasan dikejar waktu, saya mendahulukan urusan perut saya dibanding seorang ibu dan anaknya.

Jadi, setelah saya pikir lagi, ibu-ibu di swalayan itu memberikan pelajaran berbudaya kepada saya. Dengan caranya sendiri.

source of image

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: