Skip to content

holmes:new feature for the future

8 Januari, 2010

Semalam saya  menonton Sherlock Holmes.

Tidak seperti yang saya bayangkan.

Mungkin 1 kalimat ini sudah mewakili seluruh review saya tentang film ini.

Apa pasal?

Selagi saya menyusun jawabannya, saya jadi teringat istilah pamungkas teman saya, expected value dan received value.

Dan inilah jawaban saya.

Expected value saya ketika saya memutuskan untuk membeli tiket Sherlock Holmes adalah saya akan menyaksikan satu karakter novel Sir Arthur Conan Doyle yang akan “dibangkitkan” ke layar kaca, tokoh detektif yang melegenda serta metode deduksi yang saat kita baca membuat kita seakan lupa bernafas. dan kalau dikonversi menjadi menonton, tentunya saya membayangkan bahwa saya akan lupa berkedip. karena khawatir bila saya berkedip, saya akan kehilangan alurnya.

dan kalau saya boleh berandai-andai untuk memilih cast, saya mungkin akan menjelmakan Holmes pada diri can-do-it-all, Johnny Depp, sedangkan untuk Watson, John Cusack sepertinya boleh dipertimbangkan,

berlebihan mungkin, tapi itulah expected value saya, sesuatu yang saya harapkan akan saya dapatkan.

tapi di film?

Sherlock menjadi lebih…saya sulit menemukan kata yang tepat, tapi berotot mungkin kata yang paling mewakili. Muscular. Maskulin. Sherlock Holmes yang saya temui di film adalah gabungan dari otak dan otot. Well, mungkin inilah versi yang lebih pas untuk karakter dalam sebuah film Hollywood. Jadi pilihan jatuh pada Robert Downey Jr, sang Iron Man.

Sedangkan Watson, sang sahabat setia Holmes, menjadi lebih, ehm, tampan. Siapa yang masih berani mempertanyakan how good lookin Jude Law is?dan sekali lagi, inilah versi yang lebih pas, lebih menjual untuk keluaran Hollywood tentunya.

Saya hanya bisa membayangkan kalau film ini setia dengan bukunya, apakah penontonnya akan sebanyak ini?

jadi saya pikir Guy Ritchie mengambil keputusan yang tepat dengan tidak menuruti saran saya untuk urusan cast. Dengan memberi feature baru berupa otot untuk Holmes dan ketampanan untuk Watson, serta dibekali dengan plot yang lebih lambat dan lebih komedik, terbukti tokoh detektif dari akhir tahun 1800-an ini disukai oleh banyak sekali penonton abad 21. Yay,  good for you, Ritchie!

Inilah Sherlock Holmes versi Guy Ritchie, lebih macho, lebih tampan, lebih lucu, dan lebih baik hati, karena memberi saya waktu untuk berkedip. Inilah received value-nya, sesuatu yang akhirnya saya dapatkan.

Anyway, topi dan mantel Holmes mungkin sudah bulukan, out of date, dan tidak bisa dipakai lagi. Yang tersisa tinggal pipanya.

7,8/10 saya rasa sudah pas.

source of image

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 10 Januari, 2010 12:09 pm

    kok nanggung 7,8. kenapa nggak 8 aja. sebagai orang yg blm pernah baca novelnya, film ini asik banget. lucu dan seru…
    dan akhirnya, sekarang ingin mencari dan membaca novelnya 🙂

    yang 0,2 buat saya mas. karena saya kebagian duduk paling depan, jadi hrs mendongakkan kepala kurang lebih 2 jam 😀
    novel-nya bagus mas, highly recomended. thanks for visiting 🙂

  2. orang bingung permalink
    15 Januari, 2010 4:22 pm

    saya bingung.
    di cerita yang mana disebutin kalo sherlock holmes pake topi? kayaknya cuma di cover depan tiap novelnya aja deh..
    lu udah baca semua novelnya? tau dong di cerita yang mana?kalo ketemu kasih tau ya?

  3. huggies4u permalink*
    16 Januari, 2010 6:52 am

    mas/mba yang lagi bingung saya bicara tentang image. image-nya kan seperti itu. that’s all.
    sudah baca semua novelnya? punya koleksinya ya? pinjem doong 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: