Lanjut ke konten

aku masih miskin ilmu

25 November, 2008

tulisan ini sengaja aku bikin buat follow up postingan yang kemarin. sebanyak itu yang liat dan sebanyak itu yang comment? ga nyangka dan ga ngira karena pada saat nulis juga ga ada harapan untuk itu. jadi buat yang ngira kalo postingan kemaren aku bikin buat sekedar menaikkan rating blog, maaf saudara, bukan itu tujuanku

blog ini adalah blog pribadi yang aku fungsikan untuk sarana mengeluarkan apa yang ada dalam kepalaku ini; ide, inspirasi, pengalaman, whatever. jadi blog ini dan semua yang termuat di dalamnya adalah uneg-unegku, begitu juga dengan postingan yang kemarin. begitulah aku mengambil sikap atas permasalahan ini. buat saudara semua yang mampir untuk baca dan atau ngasih comment, aku makasih banget. semuanya adalah bahan pembelajaran yang sangat berharga banget buat aku, secara aku emang masih miskin ilmu.

buat yang mengambil sikap yang lebih tegas atas permasalahan kemarin, itu aku hargai juga, sebab itu cara Anda menunjukkan cinta yang Anda punyai kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wassalam.

buat aku, toleransi dan ketegasan memang dua hal yang berbeda. tapi dalam hal ini aku cuma ingin berterimakasih dalam konteks tertentu, jadi, bukan mentolerir tidakan tersebut.

judul yang terkesan provokatif? mungkin. tapi judul itu sudah melakukan tugasnya sebagai judul, yaitu menyampaikan dan memberi sedikit banyak apa yang akan aku tulis dalam postinganku. aku MEMANG berterimakasih kepada si pembuat komik. tapi dalam KONTEKS apa? monggo, silahkan dibaca lagi.

terus, andaikan ada pencuri yang masuk rumah dan mencuri harta benda, apa aku akan berterimakasih? ya tentu. dalam KONTEKS apa? yaitu dalam konteks bahwa si pencuri ini mengingatkan bahwa aku belum cukup “mengamankan” rumah beserta isinya, dan yang kedua, dia mengingatkan aku bahwa mungkin aku belum cukup beramal sehingga harta benda-yang sesungguhnya memang bukan milikku- harus diambil dengan cara yang seperti itu. perbuatannya sendiri? ya jelas saja tercela. tapi percayalah, aku juga masih dalam proses untuk berpikir dan berterimakasih seperti itu. aku masih miskin ilmu.

dan, andaikan ibuku dimuat dalam komik sejenis, apa aku ngga marah? tentu aku marah, tapi sebelum “ngapa-ngapain” si pembuat komik tentu aku bertanya ke ibu aku dulu ” Bu, orang kaya gini enaknya diapain ya?” kalo ibu aku jawab ” ya udah, orang itu pasti belum BENAR BENAR KENAL sama ibu. kalo udah kenal ga mungkin dia bikin komik kaya gitu” Bisa apa aku? tapi percayalah, aku juga masih dalam proses untuk berpikir seperti itu. aku masih miskin ilmu.

dan tentu saja atas tulisanku tersebut aku sama sekali tidak ingin dilaknat Allah… naudzubillah min dzalik..

kalo ada yang mau lihat atau menyimak apa yang dituturkan Cak Nun dalam acara yang aku sebutin dalam postingan kemarin, bisa buka PadhangmBulan.com, dalam artikel berjudul “Jangan Madzhabkan Cinta”.

satu bulan kemudian di Jogja..

“Keyakinan pada Islam begitu mutlaknya sehingga penghinaan itu terlalu kecil,” tegas Cak Nun.

Iklan
One Comment leave one →
  1. 25 November, 2008 1:08 pm

    “Segala sesuatu itu tergantung dari niat”
    Marilah kita berniat baik terhadap segala sesuatu dan tentu saja berbaik sangka terhadap orang lain…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: